Ada kesalahan di dalam gadget ini

Minggu, 11 April 2010

kebutuhan oksigenasi

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Pengertian kebutuhan oksigenasi

Kebututuhan oksigenasi merupakan kebutuhan dasar manusia yang digunakan untuk kelangsungan metabolisme sel tubuh mempertahankan hidup dan aktifitas berbagai organ atau sel.( Hidayat, Aziz Alimul . 2004. Pengantar Kebutuhan dasar Manusia. CV. SALEMBA MEDIKA. Jakarta.)

Oksigenasi adalah memberikan aliran gas O2 lebih dari 21% pada tekanan 1 atm sehingga konsentrasi O2 mengikat dalam tubuh.(www.google.com)

B. Anatomi Sistem Pernafasan

Anatomi sistem yang berperan dalam kebutuhan oksigenasi terdiri atas saluran pernapasan bagian atas, bagian bawah, dan paru.

1. Saluran pernapasan bagian atas

Saluran pernapasan bagian atas berfungsi menyaring, menghangatkan, dan melembabkan udara yang terhirup. Saluran pernapasan ini terdiri dari :

a. Hidung

Hidung terdiri atas nares anterior (saluran dalam lubang hidung) yang memuat kelenjar sebaseus dengan ditutupi bulu yang kasar dan bermuara ke rongga hidung dan rongga hidung yang dilapisi oleh selaput lendir yang mengandung pembuluh darah. Proses oksigenasi diawali dengan penyaringan udara yang masuk melaui hidung oleh bulu yang ada dalam festibulum (bagian rongga hidung), kemudian dihangatkan serta dilembabkan.

b. Faring

Faring merupakan pipa yang memiliki otot, memanjang dari dasar tengkorak sampai eusofagus yang terletak di belakang nasofaring (di belakang Hidung), di belakang mulut (orofaring), dan di belakang laring (laringofaring).

c. Laring (tenggorokan)

Laring merupakan saluran pernapasan setelah faring yang terdiri atas bagian dari tulang rawan yang diikat bersama ligament dan membrane, terdiri atas 2 lamina yang bersambung di garis tengah.

d. Epiglotis

Epiglotis merupakan daun katub kartilago yang menutupi ostium yang bertugas membantu menutup laring pada saat proses menelan makanan atau minuman.

e. Trakea

Trakea atau disebut sebagai batang tenggorok, memiliki panjang kurang lebih 9 cm yang dimulai dari laring sampai kira-kira ketinggian vertebra torakalis ke-V. Trakea tersusun atas 16-20 lingkaran tidak lengkap berupa cicin, dilapisi selaput lendir yang terdiri atas epithelium bersilia yang dapat mengeluarkan debu atau benda asing.

2. Saluran pernapasan bagian bawah

Saluran pernapasan bagian bawah berfungsi mengalirkan udara dan memproduksi surfaktan. Saluran ini terdiri atas :

a. Brongkus

Brongkus merupakan bentuk percabangan atau kelanjutan dari trakea yang terdiri atas 2 percabangan kanan dan kiri. Bagian kanan lebih pendek dan lebar dari pada bagian kiri yang memiliki 3 lobus atas, tengah, dan bawah, sedangkan brongkus kiri lebih panjang dari bagian kanan yang berjalan dari lobus atas dan bawah.

b. Brongkiolus

Brongkiolus merupakan saluran percabangan setelah brongkus.

c. Alveoli

3. Paru

Paru merupakan organ utama dalam sistem pernapasan. Paru terletak dalam rongga torak setinggi tulang selangka sampai dengan diagfragma. Paru terdiri atas beberapa lobus yang di selaputi olek pleura parietalis dan pleura viseralis, serta dilindungi oleh cairaa n pleura yang berisi cairan surfaktan.

Paru sebagai alat pernapasan utama terdiri atas 2 bagian yaitu paru kanan dan kiri. Pada bagian tengah organ ini terdapat organ jantung berserta pembuluh darah yang berbentuk kerucut, dengan bagian puncak disebut apeks. Paru memiliki jaringan yang bersifat elastis, berpori, serta berfungsi sebagai tempat pertukaran gas oksigen dan karbondioksida.

C. Fisiologi Sistem Pernapasan

Proses pemenuhan kebutuhan oksigenasi tubuh terdiri atas tiga tahap, yaitu ventilasi, difusi gas, dan transfortasi gas :

1. Ventilasi

Ventilasi merupakan proses keluar dan masuknya oksigen dari atmosfir ke dalam alveoli atau dari alveoli ke atmosfer. Proses ventilasi dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu adanya perbedaan tekanan antara atmosfer dengan paru, semakin tinggi tempat maka tekanan udara semakin rendah, demikian sebaliknya, semakin rendah tempat tekanan udara semakin semakain tinggi; adanya kemampuan toraks dan paru pada alveoli dalam melaksanakan ekspansi atau kembang kempis; adanya jalan nafas yang dimulai dari hidung hingga alveoli yang terdiri atas berbagai otot polos yang kerjanya sangat dipengaruhi oleh sistem saraf otonom (terjadinya rangsangan simpatis dapat menyebabkan relaksasi sehingga vasodilatasi dapat terjadi, kerja saraf parasimpatis dapat menyebabkan kontraksi sehingga vasokontriksi atau proses penyempitan dapat terjadi); refleks batuk dan muntah; dan adanya peran mucus siliaris sebagai barier atau penangkal benda asing yang mengandung interferon dan dapat meningkatkan virus. Pengaruh proses ventilasi selanjutnya adalah, komplience dan recoil. Komplience merupakan kemampuan paru-paru untuk mengembang. Kemampuan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu adanya surfaktan yang terdapat pada lapisan alveoli yang berfungsi menurunkan tegangan permukaan dan adanya sisa udara yang menyebabkan tidak terjadinya kolaps serta ganguan toraks. Surfaktan diproduksi saat terjadi peregangan sel alveoli dan disekresi saat kita menarik nafas ,sedangkan recoil adalah kemampuan mengeluarkan CO2 atau kontraksi menyempitnya paru,. Apabila koplience baik namun recoil terganggu, maka CO2 tidak dapat keluar secara maksimal.

Pusat pernafasan, yaitu medulla oblongata dan Pons, dapat mempengaruhi proses ventilasi, karena CO2 memiliki kemampuan rangsangan merangsang pusat pernapasan. Peningkatan CO2 dalam batas 60 mmHg dapat merangsang pusat pernapasan dan bila PCO2 kurang dari sama dengan 80 mmHg dapat menyebabkan depresi usat pernapasan.

2. Difusi gas.

Difusi gas merupakan pertukaran antara oksigen di Alveoli dengan kapiler paru dan CO2 di kapiler dengan Alveoli. Proses pertukaran ini dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu luasnya permukaan paru, tebal membrane, respirasi/permeabilitas yang terdiri atas epitel elveoli dan intersisial (keduanya dapat mempengaruhi proses difusi apabila terjadi proses penebalan), perpedaan tekanan dan konsentrasi o2 (hal ini sebagaimana O2 dari alveoli masuk ke dalam darah oleh karena O2 dalam rongga alveoli lebih tinggi daritekanan O2 dalam darah vena pulmonali, masuk kedalam darah secara difusi), PCO2 dalam arteri pulmonalis akan berdifusi kedalam alveoli, dan afinitas gas (kemampuan menembus dan saling mengikat hemoglobin-hb).

3. Transportasi gas.

Transportasi gas merupakan proses pendistribusian O2 kapiler kejaringan tubuh dan CO2 jaringa tubuh ke kapiler.

Pada proses transportasi, O2 akan berikatan dengan hb membentuk oksihemoglobin (97%) dan larut dalam plasma (3%), sedangkan CO2 akan berikatan dengan hb membentuk karbominohehemoglobin (30%), larut dalam plasma (5%), dan sebagian menjadi HCO3 yang berada dalam darah (65%).

Transportasi gas dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu jantung (kardiak output), kondisi pembuluh darah, latihan (exercise), perbandingan sel darah dengan darah secara keseluruha (hematokrit), serta eritrosit dan kadar hb.

D. Factor-Faktor Yang Mempengaruhi Pernapasan

1. Saraf Otonomik

Rangsangan simpatis dan parasimpatis dari saraf otonomik dapat mempengaruhi kemampuan untuk dilatasi dan kontriksi, hal ini dapa terlihat simpatis maupun parasimpatis. Ketika terjadi rangsangan ujung saraf dapat mengeluarkan Neurontransmiter (untuk simpatis dapat mengeluarkan noradrenalin yang berpengaruh pada bronkodilatasi dan untuk para simpatis mengeluarkan asetilkolin yang berpengaruh pada bronkhontriksi) kaarena pada saluran pernapasan terdapat reseptoe adrenergic dan reseptor kolinergik.

2. Hormone dan obat

Semua hormone termasuk derivate catecholamine dapat melebarkan saluran pernapasan. Obat yang tergolong para simpatis, seperti sulvas atropine dan ekstrakbelladona, dapat melebarkan sluran nafas, sedangkan obat yang menghambat adrenergic tipe beta (khususnya beta-2), seperti obat yang tergolong penyakat beta non selektif, dapat mempersempit saluran nafas (bronkhontriksi).

3. Alergi pada saluran nafas

Banyak faktor yang dapat menimbulkan alergi, antara lain debu yang terdapat dalam hawa pernapasan, bulu binatang, serbuk benang, sari bunga, kapuk, makanan, dan lain-lain. Fator-faktor ini menyebabkan bersin bila terdapat rangsangan rangsangan di daerah nasal; batuk bila di saluran pernapasan bagian atas; bronkhontriksi pada asma bronkhiale; dan therinitis dan renitis bila terdapat di saluran pernapasan bagian bawah.

4. Perkembangan

Tahap perkembangan anak dapat mempengaruhi jumlah kebutuhan oksigenasi, Karena usia organ dalam tubuh berkembangb seiring usia perkembangan. Hal ini dapat terlihat pada bayi usia premature, adanya kecendrungan kekurangan pembentukan surfaktan. Setelah anak tumbuh dewasa, kemampuan kematangan organ juga berkembang seiring bertambahnya usia.

5. Lingkungan.

Kondisi lingkungan dapat mempengaruhi kenbutuhan oksigenasi, seperti factor alergi, ketinggian tanah dan suhu. Kondisi tersebut mempengaruhi kemampuan adaptasi.

6. Gaya Hidup.

Faktor perilaku yang dapat mempengaruhi kebutuhan oksigenasi adalah perilaku dal;am mengonsumsi makan (status nutrisi), sebagai contoh obesitas dapat mempengaruhi proses perkembangan paru, aktifitas dapat mempengaruhi proses peningkatan kebutuhan oksigenasi, merokok dapat menyebabkan penyempitan pada pembuluh darah, dan lain-lain.

7. Status Kesehatan

Pada orang yang sehat sistem kardiovaskuler dapat menyediakan oksigen yang cukup untuk memnuhi kebutuhan tubuh. Akan tetapi pada penyakit sistem kardiovaskuler kadang berakibat pada terganggunya pengiriman O2 ke sel-sel tubuh. Selain itu penyakit-penyakit pada sistem pernapasan dapat mempunyai efek sebaliknya pada O2 darah.

E. Jenis pernapasan

1. Pernapasan eksternal

Pernapasan eksternal merupakan proses masuknya O2 dan keluarnya CO2 dari tubuh, sering disebut sebagai pernapasan biasa. Proses pernapasan ini dimulai dari masuknya oksigen melalui hidung dan mulut pada waktu bernapas, kemudian oksigen masuk melalui trakea dan pipa bronchial ke alveoli, lalu oksigen akan menembus membrane yang akan diikan oleh hb sel darah merah dan dibawa ke jantung. Setelah itu sel darah m,erah dipompa oleh arteri ke seluruh tubuh utuk kemudian meninggalkan paru dengan tekanan oksigen 100 mmHg. Karbondoiksida sebagai hasil pembuangan metabolism menembus membrane kalpiler alveolar, yakni dari kapiler darah ke alveoli dan melalui pipa bronchial (trakea) dikeluarkan melalui hidung.

2. Pernapasan internal.

Pernapasan internal merupakan proses terjadinya pertukaran gas antar sel jaringan dengan cairan sekitarnya yang sering melibatkan proses metabolismetubuh, atau juga dapat dikatakkan bahwa pernapasan ini diawali denagan darah yang telah menjenuhkan hb-nya kemudian mengitariseluruh tubuh dan akhirnya mencapai kapiler dan bergerak sangat lambat. Sel jaringan mengambil oksigen dari hb dan darah menerima sebagai gantinya dan menghasilkan karbondioksida sebagai buanganya.

F. Masalah Sistem Pernapasan.

1. Hipoksia

Hipoksia merupakan kondisi tidak tercukupnya pemenuhan kebutuhan oksigen dalam tubuh akibat defisiensi oksigen atau peningkatan penggunaan oksigen dalan tingakat sel, ditandai dengan adanya warna kebiruan pada kulit (sianosis). Secara umum, terjadinya hipoksia disebabkan oleh menurunnya kadar hb, menurunnya difusi O2 dari alveoli ke dalam darah, menurunya perfusi jaringan, atau ganguan ventilasi yang dapat menurunkan konsentrasi oksigen.

2. Perubahan pola pernapasan.

a. Tachypne.

Merupakan pernapasan yang memiliki frekuensi lebih dari 24 x permenit. Proses ini terjadi karena paru dalam keadaan atelektoksis atau terjadinya emboli

b. Bradipnea

Merupakan pola pernapasan yang lambat dan kurang dari 10x permenit. Pola ini dapat ditemukan dalam keadaan peningkatan tekanan intrakraniak yang disertai narkotik atau sedative.

c. Hiperventilasi

Merupakan cara tubuh dalam mengompenisasi peningkatan jumlah oksigen dalam paru agar pernapasan lebih cepat dan dalam. Proses ini ditandai dengan adanya peningkatan denut nadi, napas pendek, adanya nyeri dada, menurunnya konsentrasi CO2 dan lain-lain. Keadaan demikian dapat disebakan oleh adanya infeksi, keseimbangan asam basah, atau ganguan psikologis. Hiperventilasi dapat menyebabkan hipokapnea, yaitu berkurangnya CO2 tubuh di bawah batas normal, sehingga rangsangan terhadap pusat pernapasan menurun.

d. Kusmaul

Merupakan pola pernapasan cepat dan dangkal yang dapat ditemukan pada orang dalam kadaan asodosis metabolic.

e. Hipoventilasi

Merupakan upaya tubuh untuk mengeluarkan karbondioksida dengan cukup yang dilakukan pada saat ventilasi alveolar serta tidak cukupnya penggunaan oksigen yang ditandai dengan nyeri kepala, penurunan kesadaran, disorientasi, atau ketidak seimbangan elektrolit yang dapat terjadi akibat atlektasis, lumpunya otot-otot pernapasan, depresi pusat pernapasan, peningkatan jalan udara, penurunan tahanan jaringan paru dan toraks, serta penurunan komplience paru dan toraks. Keaadaan demikian dapat menyebakan hiperkapnea, yaitu retensi CO2 dalam tubuh sehingga PCO2 meningkat akibat hipoventilasi) mengakibatkan depresi susunan saraf pusat.

f. Dipsnea

Merupakan perasaan sesaak dan berat saat pernapasan. Hal ini dapat disebabkan oleh perubahan kadar gas dalam darah/jaringan, kerja berat/berlebihan, dan pengaruh psikis.

g. Ortopnea

Merupakan kesulitan bernapas kecuali dalam posisi duduk atau berdiri dan pola ini sering ditemukan pada seseorang yang mengalami kongestik paru.

h. Cheyne stokes

Merupakan siklus pernapasan yang amplitudonya mula-mula naik, turun,berhenti, kemudian mulai dari siklus baru.

i. Pernapasan paradoksial

Merupakan pernapasan yang ditandai dengan pergerakan dinding paru yang berlawanan arah dari keadaan normal sering ditemukan pada keadaan etelektapsis.

j. Biot

Merupakan pernapasan dengan iramayang mirip dengan cheypne stokes tetapi amplitudonya tidak teratur. Pola ini sering dijumpai pada rangsangan selaput otak, tekanan intra cranial yang meningkat, trauma kepala dan lain-lain.

k. Stridor

Merupakan pernapasan bising yang terjadi karena penyempitan pada saluran pernapasan. Pola ini pada umumnya ditemukan pada kasus spasmetrackea atau opstruksi laring.

3. Obtsruksi jalan napas

Obstruksi jalan napas (bersihan jalan napas) merupakan kondisi pernapasan yang tidak normal akibat ketidak mampuan batuk secara efektif, dapa disebabkan oleh sekresi yang kental atau berlebihan akibat penyakit infeksi,immobilisasi, stasi, sekresi, dan batuk tidak efektif karena penyakit persarafan seperti cerebrovascular accident (cva), efek pengobatan sedative, dan lain-lain.

Tanda-tanda klinis :

a. Batuk tidak efektif.

b. Tidat mampu mengeluarkan sekresi di jalan nafas.

c. Suara napas menunjukan adanya sumbatan.

d. Jumlah, irama, dan kedalaman pernapasan tidak normal.

4. Pertukaran Gas

Pertukaran gas merupakan kondisi penurunan gas, baik oksigen maupun karbon dioksida antara alveoli paru dan system vaskuler, dapat disebabkan oleh sekresi yang kental atau immobilisasi akibat penyakit system saraf, depresi susunan saraf pusatatau penyakit radang pada paru. Terjadinya gangguan pertukaran gas ini menunjukan kapasitas difusi menurun, antara lain disebabkan oleh penurunan luas permukaan difusi, penebalan membrane alveolar kapiler, terganggunya pengangkutan O2 dari paru kejaringan akibat rasioventilasi perfusi tidak baik, anemia, keracunan CO2 dan terganggunya aliran darah.

Tanda klinis ;

a. Dispnea pada usaha napas

b. Napas dengan bibir pada fase ekspirasi yang panjang.

c. Agitasi.

d. Lelah, letargi.

e. Meningkatnya tahanan vascular paru.

f. Menurunnya saturasi oksigen, meningkatnya PCO2

g. Sianosis.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar